“…Dapatkah kau perkirakan

Bagaimana sederhana kerja yang dimulainya

Betapa bersahaja lingkungan di sekitarnya

Tetapi jejak panjang ribuan kilometer

Dimulai dengan langkah bersama

Dia menghimpun ummat dengan cita-cita yang sama

Tarjih, tajdid, menolong kesengsaraan umum, mencerdaskan bangsa.”

(Taufiq Ismail, puisi untuk Muhammadiyah)

 

Etos kerja merupakan etos yang sangat menonjol dalam persyarikatan Muhammadiyah. Etos ini juga yang paling bisa menjelaskan rahasia dibalik awetnya gerakan amal ini melampauisatu abad usianya. Tidak ada di belahan bumi mana pun gerakan Islam sebesar Muhammadiyah yang dapat berdaya tahan melampauiseratus tahun. Karenanya, puisi tentang Muhammadiyah yang diberikan judul “Rasa Syukur dan Doa Bersama”ciptaan sastrawan Taufiq Ismail sebagaimana kutipan di atas sangatlah tepat memberikan nafas apresiatif dan kebanggaan bagi warga Muhammadiyah serta bangsa Indonesia seutuhnya akan peran historis gerakan sosial keagamaan ini. Muhammadiyah telah mengantarkan ratusan ribu bahkan jutaan manusia Indonesia melek baca dan punya daya saing dalam kehidupan. Dengan prestasi demikian Muhammadiyah samakin besar tantangannya di masa-masa yang akan datang, bukan malah menciptakan kebanggaan lalu berpangku tangan.

Pendiri gerakan Muhammadiyah dengan segala keterbatasan dukungan mampu memproyeksikan gagasannya jauh ke depan melampaui zamannya—sangatlah berkemajuan cita-cita dan etos berfikir-aksinya. Kita tentu dengan kekuatan yang lebih baik, dengan SDM (Sumber Daya Manusia) yang jauh lebih mumpuni seharusnya bisa mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih berdaya tahan dalam memenangkan kompetisi global baik dalam alam ideologi maupun alam kebudayaan umat manusia (tata kehidupan universal).

Di dalam pergerakan, etos dapat mendorong kehidupan masyarakat dalam membangun kekuatan diri menjawab tantangan zaman dan juga keluar dari ketertinggalan di segala bidang kehidupan. Di Muhammadiyah, etos kerja ini kemudian menjelma menjadi ‘etos berkemajuan’ yang membutuhkan strategioperasional baru karena tantangan yang dihadapi juga serba baru misalnya bagaimana tekhnologi diperankan, bagaimana menjawab kebutuhan-kebutuhan komunitas di masyarakat, bagaimana meningkatkan daya saing pendidikan dasar menengah dan perguruan tinggi yang bernaung di bawah persyarikatan Muhammadiyah. Selain itu, peran-peran lebih nyata Muhammadiyah dalam mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance atau husn at-tadbir) serta mendorong negara berperilaku adil kepada rakyat.

Etos berkemajuan Muhammadiyah itu dapat dijabarkan menjadi beberapa etos kerja progresif di beberapa bidang kehidupan sebagai bagian dari bangsa untuk berkontribusi kepada kemajuan dan tegaknya kehidupan bernegara yaitu pertama, etos berkemajuan di bidang ibadah, yaitu mendayagunakan kekuatan sumberdaya yang ada untuk mendorong bahwa nilai-nilai ibadah bukan semata-mata untuk membentuk keshalehan individual melainkan untuk mengaktualisasikan umat untuk membangkitkan keshalehan sosial. Ini perlu dilakukan terus menerus secara konsekuen dan berkelanjutan sebagai suatu etos orang-orang yang tercerahkan. Haji tidak perlu dilakukan sebanyak-banyaknya tetapi bagaimana kemampuan ibadah jamaah ditransformasikan untuk agenda-agenda keummatan—menjawab masalahsosial kekinian. Gagasan ini telah dengan baik dicontohkan oleh KH Ahmad Dahlan yang kemudian kita kenal sebagai teologi Al-Maun atau teologi amal sosial. Gagasan ini harus ditemukan padanan-padanan di lapangan yang lebih praksis sesuai konteks masyarakat.

Kedua, etos berkemajuan di bidang ekonomi dan sosial. Muhammadiyah lambat laun akan mengalami paceklik ‘kader saudagar’ atau kader entrepreneur mengingat semakin banyakya warga Muhammadiyah memilih jalan sebagai ‘priyayi’ di sektor-sektor birokrasi dan amal usaha Muhammadiyah maupun di luar Muhammadiyah. Situasi ini akan menjebak Muhammadiyah pada mekanisme organisatoris yang tak fleksibel karena latar belakang pekerjaan itu secara diam-diam menjadi mekanisme gerak organisasi yang dikelola. Etos kerja ekonomi selain kebutuhan membangun semangat bekerja, disiplin, dan kolaborasi untuk memperluas jangkauan aktifitas bisnis juga perlu diuuapayakan bersama pembangunan etos berbagi, solidaritas dan kerelawanan .

Belum lama ini ada berita tak sedap di dalam pengelolaan Amal usaha Muhamamdiyah di bidang pendidikan. Masih banyak guru-guru yang gajinya jauh dibawah standar upah minimum regional atau jauh dari kata cukup namun mereka tetap bertahan mengabdi di lembaganya. Hal yang paling menyedihkan adalah bahwa keberadaan lembaga itu tak jauh dari AUM yang sangat besar dan moncer. Di sini etos berbagi lewat subsidi silang tidak berjalan sesuai harapan, Muhammadiyah sebagai persyarikatan yang berada di bawah satu atap yang sama. Etos berbagi belum kuat melembaga itu adalah suatu kenyataan.

Ketiga, etos berkemajuan dibidang pendidikan. Di banyak lembaga pemeringkatan perguruan tinggi kontribusi keilmuwan di PT Muhamamdiyah masih jauh panggang dari api walau juga banyak prestasi yang membanggakan. Artinya, kita tidak puas dengan apa yang telah dicapai. Dalam pelayanan pendidikan dasar dan menengah masih ada pekerjaan rumah mengenai ‘seberapa beradab’ tata kelola yang Muhammadiyah telah praktikkan. Kecenderungan sekolah sebagai instrument untuk menyediakan tenaga kerja yang melahirkan manusia mesin serba mekanistik yang juga dipengaruhi oleh orientasi kognitif yang over dosis kerap kita temukan dibanding lembaga pendidikan yang mempedulikan nilai-nilai keadaban, nilai-nilai etis dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan. Nampaknya Muhammadiyah belum banyak menyumbangkan pembangunan tradisi literasi bangsa ini sehingga tiap ada peringkingan dunia selalu bangsa ini terpental di buritan halaman. Kekuatan literasi adalah modal besar gerakan keilmuwan, juga fondasi terpenting gerakan yang beretos kemajuan.

Terakhir, etos berkemajuan di bidang politik dan pemerintahan. Kerap kali kita mendengar kalimat ‘Muhammadiyah tidak diperhitungkan dalam konstalasi politik nasional’ sebagai kalimat bernada kecewa karena Muhammadiyah dengan peran kesejarahannya, dengan dedikasi pengabdian untuk bangsa tidak diperlakukan baik oleh Negara dalam memutuskan kebijakan nasional menyangkut pengelolaan pemerintahan. Walaupun Muhammadiyah tidak didesains sebagai organisasi politik namun nilai-nilai etis kenegaraan haruslah tetap diproduksi oleh Muhammadiyah sebagai mentalitas berbangsa untuk mendorong terciptanya masyarakat yang berkeadilan dan berkesejahteraan dimana keberadaan dan peran Negara menjadi suatu keniscayaan. Muhammadiyah perlu kembali menafsir high politik dalam kehidupan politik kontemporer saat ini misalnya dalam upaya penegakan hukum untuk koruptor, untuk kejahatan lingkungan, untuk keadilan HAM, urusan sengketa perda-perda bermasalah, keadilan berdagang (mengurangi dominasi toko modern berjejaring, misalnya).

Apa yang dicapai oleh agenda jihad konstitusi pada periode kepemimpinan Prof Dien Syamsuddin haruslah direvitalisasi dengan pelembagaan peran politik-kebangsaan Muhammaadiyah yang lebih mapan (bukan hanya gagasan personal). Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan(KNIB)menjadi bermakna jika gagasan-gagasan yang dirumuskan menjadi salah satu pijakan pemerintah dalam mengelola kebijakan di berbagai bidang. Jika tidak, maka KNIB tersebut tak lebih tak bukan hanyalah menjadi ajang festival pengalaman dan gagasan saja. Saatnya etos berkemajuan segera dibangkitkan dari alam mimpinya. Wallahu a’lam bi showab.

Sumber : Muhammadiyah